Kekuatan Maaf Rasulullah

Dipublikasikan : 26-12-2016 11:47:48

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah al-Yamamah bergegas pergi ke Madinah. Ia hendak membunuh Nabi Muhammad saw. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majelis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan tujuannya itu.

 

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah al-Yamamah bergegas pergi ke Madinah. Ia hendak membunuh Nabi Muhammad saw. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majelis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan tujuannya itu.

 

Saat Tsumamah datang, Umar bin Khattab yang melihat gelagat buruk menghadangnya. Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?”

 
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”

 

Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar menangkapnya. Umar pun berhasil merampas senjata dan mengikat tangannya, kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid, Umar segera melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah.

 

Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”

 

Para sahabat tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini, seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang kau maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh, bukan ingin masuk Islam!” Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu.”

 

Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha Illallah (Tiada ilah selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”

 

Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!”

 

Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan menjadi geram terhadap orang yang tidak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad Rasul Allah.

 

“Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?”

 

Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridaan Allah.”
 

Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki Kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.” (berbagai sumber)

Tags : Kekuatan Maaf Rasulullah

Layanan Chat

: +62 858-6808-9879
:  
: