Curhat Muslimah Pudarnya Cinta Suami

Dipublikasikan : 26-12-2016 11:43:38

Teteh, awalnya saya adalah istri dari seorang suami yang taat beribadah dan diamanahi sebagai pengurus masjid. Pada awal pernikahan, dia sosok yang romantis, perhatian, dan penuh kasih sayang. Namun, seiring berlalunya waktu, semua itu mulai memudar dikarenakan kami belum dikaruniai anak. Kalau disinggung tentang anak, emosinya naik. Akhirnya, saya yang menjadi sasaran kemarahannya. Dia jadi sering berkata dan bersikap kasar. Sampai akhirnya dia berlepas tangan dengan tidak menafkahi lahir batin saya. Kehidupan rumah tangga kami bagai “neraka”, walau saya berusaha terus bertahan.

 

Teteh, awalnya saya adalah istri dari seorang suami yang taat beribadah dan diamanahi sebagai pengurus masjid. Pada awal pernikahan, dia sosok yang romantis, perhatian, dan penuh kasih sayang. Namun, seiring berlalunya waktu, semua itu mulai memudar dikarenakan kami belum dikaruniai anak. Kalau disinggung tentang anak, emosinya naik. Akhirnya, saya yang menjadi sasaran kemarahannya. Dia jadi sering berkata dan bersikap kasar. Sampai akhirnya dia berlepas tangan dengan tidak menafkahi lahir batin saya. Kehidupan rumah tangga kami bagai “neraka”, walau saya berusaha terus bertahan.

 

Banyak teman suami menyarankan dia berpoligami. Suami pun mempertimbangkan usulan tersebut, dan mengomunikasikannya kepada saya. Bahkan, dia sudah mengatakan kalau tiba waktunya berpoligami, dia meminta saya untuk mau menerima apabila waktu, perhatian, kasih sayang, dan nafkah akan lebih banyak diberikan kepada istri mudanya. Inilah yang membuat saya tidak menerima. Akhirnya, suami pun menceraikan saya. Namun, beberapa waktu kemudian dia meminta rujuk. Tapi, niatan awal dia untuk berpoligami tetap ada. Bagaimana menurut Teteh, apakah saya harus menerima permintaan rujuknya? Lalu, apakah kalau menolak, saya berdosa ataukah tidak? Jujur saja, saya tidak mau kembali pada kehidupan seperti dulu. Terima kasih.

(Seorang Akhwat)

 

Allah Ta’ala mengutus Rasulullah saw sebagai teladan bagi umat manusia. Maka, kalau kita menelaah semua segi kehidupan beliau, semuanya penuh keteladanan, termasuk dalam hidup berumah tangga. Beliau adalah suami terbaik bagi istri-istrinya. Dalam kondisi apa pun, beliau senantiasa menampilkan yang terbaik di hadapan keluarganya. Maka, bagi siapa saja yang menginginkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah, keluarga Rasulullah saw adalah rujukannya.

 

Pertanyaannya, bagaimana seandainya keluarga kita masih jauh dari harapan, masih jauh dari apa yang diteladankan Rasulullah saw? Inilah ujian kesabaran bagi siapa saja yang mengalaminya, termasuk saudari penanya.

 

Terkait permasalahan yang ditanyakan, ada beberapa hal penting yang dapat kita bahas.

 

Pertama, walaupun seseorang memiliki pemahaman agama yang baik (berilmu), ditokohkan, dan dipandang baik, ada saatnya keimanan yang bersangkutan menurun, sehingga sikap dan kualitas amalnya pun menurun. Tidak lagi seperti biasa. Maka, seorang istri harus sangat memahami bahwa suaminya adalah manusia biasa. Manusia yang keimanannya bisa naik, bisa turun. Manusia yang bisa salah, seideal apa pun dia dalam pandangan orang sekitarnya. Maka, di sini seorang istri harus bersikap bijak. Suami boleh jadi belum siap mental dan keimanannya kala Allah Ta’ala mengujinya dengan suatu kondisi, semisal belum dikaruniai anak.

 

Kedua, dari apa yang ditanyakan saudari, akar permasalahannya adalah belum hadirnya anak keturunan. Inilah pokok permasalahannya sehingga beliau menjadi berubah sikap, tidak lagi seromantis dahulu. Hal ini kemudian merembet pada perubahan sikap lainnya: acuh, berkata kasar, sampai akhirnya lepas tanggung jawab dari memberi nafkah (lahir dan batin), munculnya keinginan untuk berpoligami, sampai akhirnya timbul perceraian. Maka, saat ada masalah, sebaiknya kita segera menyelesaikannya secara bersama-sama. Jangan biarkan masalah berlarut-larut, karena itu akan mendatangkan masalah baru. Teteh tidak tahu apakah saudari penanya sempat mendiskusikan dan mencari pemecahan masalahnya dengan suami, semisal mengecek ke dokter ahli tentang kesehatan reproduksi. Dengan mendatangi dokter atau terapis ahli, biasanya akan diketahui faktor-faktor apa yang menyebabkan sulitnya hamil, dan langkah-langkah antisipasi atau pengobatannya.

 

Ketiga, tentang poligami. Sesungguhnya, poligami adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam pernikahan. Apabila setelah sekian tahun menikah tetapi belum juga dikaruniai anak, suami boleh meminta izin kepada istri (dengan cara yang baik dan waktu yang tepat) untuk menikah lagi. Namun, tidak diperbolehkan seorang suami berpoligami jika sejak awal dia sudah berniat menzalimi istri tua dengan lebih condong kepada istri muda, baik nafkah lahir maupun nafkah batin. Maka, seorang istri wajib mengingatkan. Artinya, istri bisa memberikan izin kepada suami untuk berpoligami, asalkan dia bisa bersikap adil. Kalau mau berpoligami harus dengan niat yang tulus dan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya.

 

Pertanyaan, boleh saya menolak permintaan rujuk suami ataukah harus menerima? Kita boleh menolak permintaan rujuk suami apabila suami tidak mau berubah, sehingga mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya. Atau, kalau dia tetapi ingin berpoligami, dan sudah meniatkan untuk tidak adil dalam poligaminya, kita diperbolehkan menolak. Yang tidak boleh, kita menolak permintaan rujuk karena alasan menolak syarat poligami yang diajukan oleh suami. Hal ini sama artinya dengan menentang syariat yang telah ditetapkan dalam al-Quran dan hadis Nabi Muhammad saw.

 

Maka, sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak, selain mempertimbangkan hal tersebut, ada baiknya kita memohon kepada Allah agar diberi petunjuk. Salat Istiqarah dapat kita lakukan, perbanyak doa. Insya Allah, Zat Yang Mahakuasa akan membimbing kita untuk memilih jalan terbaik. [?]

Tags : Curhat Muslimah Pudarnya Cinta Suami

Layanan Chat

: +62 858-6808-9879
:  
: